-
Pagi itu, di kala ayam – ayam baru selesai berkokok ria, di teras sebuah rumah yang terletak di kota X, terdengar suara isak tangis seorang wanita. Ternyata itu suara Mami.
“ Hiks…jadi kamu benar mau pergi, ya An? ” ujar Mami sambil membesut hidungnya.
“ Aduh Mi, jangan gitu banget dong. Andien kan bukan mau kabur dari rumah. Hari ini plus besok, Andien kan mau pelantikan. Mami mesti bangga dong, soalnya anak Mami paling cantik serumah ini bakal jadi calon anggota himpunan. Himpunan loh Mi ” ujar Andien bersemangat.
“ Oh ya? Ya sudah kalau begitu, Mami nggak bakal sedih lagi. Tapi boleh dong Mami agak sesenggukan gitu dikit ”. Lagi – lagi Mami membesut hidungnya.
“ Wah asyik nih, bentar lagi pelantikan. Seru loh, naik turun tanjakan gitu deh pasti ” sahut Kak Iqbal. Andien cuma manggut – manggut aja, soalnya doski sendiri juga belum tahu bakalan seperti apa pelantikannya nanti, entah itu naik turun gunung, lembah, bukit, atau keluar masuk hutan, semuanya memang masih menjadi misteri Gunung Merbabu, sulit ditebak, baik itu pake kalkulator, apalagi sempoa, soalnya emang nggak bisa dihitung.
“ Yang pasti kamu tetap mesti semangat, anggap aja ini adalah ujian terakhir sebelum kamu benar – benar menjalani kehidupan sebagai seorang anggota himpunan. Gini – gini Papi kan dulu juga aktivis kampus. Ah, jadi terkenang masa muda ” ujar Papi sambil menerawang.
“ Halo – halo…Andien udah mau berangkat nih. Nostalgia, canda tawa, senda gurau, plus dan lain – lainnya, nanti aja kalo Andien dah pulang. Oke. Kalo Andien telat, bisa – bisa senior pada merindukan Andien dan bakal kelabakan cari Andien, sambil ngomel – ngomel tentunya ”. Andien kemudian mencium tangan Papi, Mami, dan Kak Iqbal.
“ Jangan lupa bawa oleh – oleh ya ! ” sahut Kak Iqbal.
“ Iya, ntar Andien bawain monyet gunung, spesial buat Kak Iqbal ” jawab Andien sambil melambaikan tangannya.
Jam telah menunjukkan pukul 06.15, begitu Andien tiba di gerbang kampus. Masih 15 menit lagi, batinnya. Andien kemudian bergegas menuju ke selasar fakultasnya. Setibanya disana, teman – temannya sudah berada rapi dalam barisan. Andien segera berbaur. Setelah beberapa saat, Kak Anto, salah seorang panitia kaderisasi, maju ke depan barisan.
“ Ehm…ehm. Baiklah, sepertinya semua sudah berkumpul. Sekarang saya minta salah satu dari kalian untuk maju ke depan ”
Keadaan hening. Tidak satupun dari Juneros, julukan tercinta bagi para peserta kaderisasi STEI, yang berani mengangkat tangan.
“ Bagaimana kalian ini, masa begitu saja tidak berani. Saya saja berani maju ke depan ”. Itu lain Kakak, kata andien dalam hati.
“ Ayo dimana keberanian kalian? Apa perlu saya menunjuk salah seorang dari kalian untuk mencarinya? ” (Mencari apa, Kak Anto?.red)
Andien curi – curi pandang ke sekitarnya. Ternyata tetap tidak ada berniat untuk maju ataupun kelihatan akan maju. Akhirnya Andien mengangkat tangannya. Kak Anto menoleh.
“Ya kamu…kenapa mengangkat tangan? Mau bertanya ya? ”
“ Ya Kak, saya memang ingin bertanya. Apa saya boleh maju ke depan? ”
“ Kalo mau bertanya, cukup bertanya di tempat saja. Tidak usah pake maju ke depan segala. Nabrak nanti ”
Egh…andien hampir keselek. Busyet deh ni kakak, katanya disuruh maju, eh malah ngelantur tujuh turunan gini. Mimpi apa aku dua bulan terakhir, rutuk Andien gemas.
tiba – tiba Kak Anto menepuk jidatnya. “Oh jadi kamu yang mau maju ya, baru sadar saya” sahutnya. Gedubrak!!!!
Akhirnya Andien maju juga. Ternyata dan ternyata, doski mendapat tugas suci untuk memandu teman – temannya mengecek kelengkapan alat – alat yang mesti dibawa.
Terpaksa Andien harus membongkar tas nya kembali. Padahal ya, buat nyusun barang – barang dalam tasnya itu, Andien, dengan perasaan berat, harus menculik Kak Iqbal tengah malam. Untung kamarnya dengan kak Iqbal berseberangan. Coba kalau beda benua, siapa lagi yang mesti ia mintai tolong. Untung Andien sudah diajari jurus – jurus ampuh buat nyusun barang dalam tas oleh Kak Iqbal. Kalau nggak, bisa asma akut deh.
Ternyata masih ada juga beberapa juneros yang lupa membawa perlengkapan. Macam – macam alasan yang dikemukakan, mulai dari yang benar – benar lupa, punya penyakit rabun-sedang (ada ya?) turunan, ada juga yang barangnya ketinggalan di angkot, kecebur di got, jatuh di parit, sampai yang nggak sengaja kebawa oleh sepupu yang kebetulan mampir numpang ke toilet. Yah…pada akhirnya mereka semua disuruh pulang buat cari ganti perlengkapan yang nggak ada.
“Eh, asyik ya mereka bisa pulang. Coba tadi aku juga lupa bawa alat, jadi bisa pulang juga deh. Pasti aku masih sempat makan tadi ”, bisik Anjas yang berdiri di sebelah Andien. Muka anjas kelihatan memelas gitu. Tiba – tiba andien teringat dengan kucing tetangganya.
“ Ya ampun, emang tadi kamu nggak sempat makan ya? ” tanya Andien iba.
“ Udah sih, tapi baru 3 piring. Aku mesti banyak makan nih. Ntar bisa – bisa aku jadi kurus ” balas Anjas. Andien cuma bisa melengos. Melihat dari postur tubuh temannya itu yang udah mirip kaya’ sapi kurban aja, andien yakin, biar si Anjas dilempar pake bom atom juga, nggak bakalan mati. Orang dagingnya aja kayanya waterproof gitu.
Menjelang jam tujuh, seluruh anak yang disuruh pulang sudah berkumpul kembali. Kak Anto kembali maju ke depan.
“ Baiklah. Karena semua anggota sudah lengkap, sekarang saatnya saya memberi tahu, kemana sebenarnya kita akan pergi ”
Wajah para juneros terlihat menegang, tak terkecuali Andien. Dalam hati, Andien cuma bisa komat – kamit. Begitu – begitu, Kak Anto juga cukup dikenal memiliki kesuraman yang begitu mendalam. Kemarin aja, tuh kakak berhasil mengusir anjing liar yang sering meneror kantin himpunan hanya dengan berdehem saja. Yang pasti, walaupun sebenarnya masih diragukan kevalidannya, entah si anjing pergi karena deheman si kakak, atau karena lagi ada keperluan mendadak aja, kak anto dianggap telah berjasa mengusir si “penjajah” himpunan tersebut.
Sekarang yang menjadi masalah, kemana gerangan mereka akan dibawa. Apa mungkin mereka akan ke hutan? Tapi hutan apa? Hutan Amazon? Jelas nggak mungkin karena sekarang, menurut gosip salah seorang teman di kelas Andien sih, hutan itu lagi dipake buat syuting film “Kuntilanak Tersesat di Hutan”. Atau…mereka malah akan dibawa ke gunung? Tapi gunung yang mana? Gunung Krakatau? Gawat dong kalo ampe meletus lagi. Atau… jangan – jangan mereka malah akan dibawa ke ruangan yang gelap, lembab, dingin, dan agak – agak bau kemenyan gitu. Andien langsung menggeleng – gelengkan kepalanya. Ini kan pelantikan, bukan penculikan, batinnya. Keseringan ngemil malem – malem nih, jadi ngawur deh, pikirnya lagi.
Kak Anto menegapkan badannya. “ Jadi kita akan ke Gunung Sangkuriang Tiarap ”
Andien melongo. Kok nggak pernah dengar ya?
(part1-end)
A ROAD TO INAUGURATION part.1
Februari 25, 2008 pada 7:38 am (kampus)
salman.m berkata,
Februari 25, 2008 pada 8:51 am
Good job.. good job.. good job
nice job.. nice job..nice job
indramukmin berkata,
Februari 25, 2008 pada 9:02 am
@salman :
nggak jelas banget komen lo hehehehehehehe
btw, blog boleh juga…
update dong…
udah dua bulan tuh…