Yoshaaa….akhirnya daku kembali setelah cukup lama menghilang dari dunia tulis – menulis di virtual world a.k.a dunia maya…
Iya nih, kayanya daku lagi agak sibuk jadi nggak sempat buat sekedar ngetik – ngetik. Paling ngetik – ngetik keyboard, dengan tuts ‘enter’ mendapat ketikan paling dominan. Yups…untuk memutar KLM tentunya. Buat nonton dorama ding hehehehehe
Ngomong – ngomong, kemarin daku baru aja selesai nonton dorama Jepang ‘Bambino’, dorama yang dibintangi oleh Matsumoto Jun (Salah satu personel F4-nya Jepang. Ada yang nonton Hanayori Dango 1 dan 2???). Back to Bambino, dorama ini bukan termasuk dorama yang fresh from the oven juga sih, soalnya di DaiNippon nya sendiri udah tayang sejak April-Juni 2007.
Tema yang diangkat dorama ini sendiri sih tentang masakan italia gitu. Matsumoto Jun nya sendiri berperan sebagai Ban Shogo, seorang newcomer di Baccanale, restoran Italia yang ada di Tokyo dan cukup termashyur sebagai restoran penyedia makanan “ehhmmm…enak!!”. Ban Shogo ini, karena merupakan orang baru, maka doski dipanggil ‘Bambino’ yang kalo di Itali sono mungkin diterjemahkan sebagai beibi alias bayi.
Total episode dorama ini ada 11 dan setiap episode menampilkan konflik yang berbeda – beda, mulai dari kedatangan Bambi sebagai tukang bantu2 doang (sori ya bambi, daku sebut tukang bantu2, daripada babu… apalagi buruh. Emang pabrik mie keriting…), jadi waitress alias pelayan di ruang makan, ampe akhirnya resmi diangkat jadi koki di dapur Baccanale. Macem – macemlah ceritanya…
Ngomong2 soal sinopsis, nggak usah kali ya daku ceritaiin, wong ada banyak situsnya ini kok. Coba aja kunjungi situs ini, ada kok hehehehehe (bukan daku yang buat. Orang disono…di negara timur sono…). Biarpun dorama, yang apabila diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia oleh ibu – ibu, baik ibu muda maupun ibu tua sebagai sinetron, tapi banyak esensi yang bisa kita peroleh. Sebagai contoh : pada saat baru tiba di Baccanale, kita mungkin pernah merasakan apa yang dialami oleh Bambi, ke-PD-an tegangan tinggi alias merasa pasti selalu bisa, hanya berbasiskan alasan, “ah aku pernah masak ini. Pasta lagi, orang itu udah bakat alaminya aku”, sehingga akhirnya si Bambi jadi keteteran sendiri.
Lalu, mungkin kita juga bisa memetik pesan lainnya, misalnya tidak pernah patah semangat, terus berusaha untuk memperbaiki kesalahan demi memperoleh kebeneran (jreng…jreng…jreng…kenapa jadi belok ke tokusatsu kamen raider ini???). So, nonton dorama tuh nggak separah nonton sinetron kok yang jumlah total episodenya bisa sama banyaknya dengan jumlah anggota keluarga selama 12 generasi (Contoh nyata : sinetron Txxx yang tayangnya sejak daku berada di bangku 5 SD dan tamat ketika daku lagi latihan paskibra di SMA). Emang sih nggak semua sinetron itu berdampak negatif, cuma yang berdampak positif pun nggak sebanyak bintang di surga kan???
Sekali – sekali nonton dorama nggak papa kali ya, asal jangan tiap hari aja. Bosen kali!!! Lagian banyak juga kok dorama2 recommended buat ditonton. Misalnya situ pengen nangis2 ala putri india, sok atuh ditonton ‘1 litre of tears’ ato ‘Tokyo Tower’ kalo yang lagi kangen ma Emak disana…
Ada yang suka dorama juga? Btw, pesan2 moral apa yang udah kamu petik?